SEHIMPUN PUISI KARYA YOLLA AGUSTIN - MALAM SEBELUM PERAWAN


 Malam Sebelum Perawan

Penulis: Yolla Agustin

Editor: Purata Publishing

Desain Cover: Marewai Desain

Layout: Purata Utama

Malam Sebelum Perawan

Penulis: Yolla Agustin

Editor: Purata Publishing

Desain Cover: Marewai Desain

Layout: Purata Utama


Kumpulan puisi ini merangkum pergulatan batin seorang perawan yang tumbuh di antara kehilangan, rindu, dosa, cinta, dan doa. Ayah yang pergi, ibu yang menjadi tempat pulang, kekasih yang hadir sekaligus melukai, serta Tuhan yang kerap diajak berdialog semuanya menjadi poros utama puisi-puisi ini. Bahasanya jujur, berani, dan kadang getir, memadukan kerinduan duniawi dengan kegelisahan spiritual, antara syahwat dan tobat, antara harap dan sesal. Setiap puisi seperti pengakuan yang tak selalu ingin dimaafkan, tetapi ingin dipahami. Kumpulan ini bukan sekadar cerita cinta, melainkan catatan perjalanan jiwa: tentang bertahan di tengah luka, merawat rindu yang tak pulang, dan mencari damai di sela-sela kehancuran. Sebuah karya yang mengajak pembaca menyelami sisi paling rapuh dari manusia tanpa topeng, tanpa pura-pura baik-baik saja.

            Menulis kumpulan puisi ini bukanlah sebuah upaya untuk terlihat indah, melainkan sebuah cara untuk tetap bernapas. Sebagai seorang mahasiswi yang kerap kali dikepung oleh sunyi di Canduang, setiap bait dalam buku ini adalah saksi bisu dari perjalanan tiga tahun saya menelusuri lorong-lorong ingatan mulai dari tanah kelahiran di Pekanbaru hingga setiap sudut rindu di Sumatra Barat. Di dalam buku ini, saya tidak menawarkan pelangi. Saya menyuguhkan realitas tentang bahu Ayah yang tak bisa dipinjam, tangisan Ibu yang pecah di malam hari, dan bagaimana rasanya menjadi "perawan pikun" yang lupa cara bahagia namun ingat cara mencinta dengan lapar. Buku ini adalah dialog saya dengan Tuhan saat doa-doa terasa risih, dan saat jarak menjadi pemisah yang paling kejam. Terima kasih kepada Ibu, pemilik surga nan menawan, dan kepada setiap pembaca yang bersedia menyelami luka saya tanpa menghakimi. Semoga melalui kata-kata yang "lebih runcing dari taring" ini, kita bisa menemukan bahwa di sela-sela kehancuran, selalu ada damai yang bisa kita jemput.


Posting Komentar

0 Komentar